Jangan Cuma Bisa Bikin Meme Papa Saja


Ilustrasi-Meme

Tak ada manusia modern hebat selain Papa. Di masa now ini, belum ada yang bisa menyatukan orang senusantara seperti dia. Sebelumnya orang di Indonesia terpecah karena pilkada atau pemilu.

Kubu yang disebut kecebong atau bani serbet sepakat bilang kalau korupsi itu buruk. Kubu yang sering disebut onta pun sama, sepakat kalau korupsi itu seburuk-buruknya iman. Kelompok-kelompok minor lain yang suaranya sama sekali tidak pernah viral macam orang yang ngaku kiri pun sama.

Atas dasar kesamaan itu, bangsa ini bisa bersatu. Boleh jadi Papa adalah juru selamat yang kita tunggu-tunggu selama ini. Juru selamat yang sudah dijanjikan beraba-abad lalu itu! Paling tidak, sampai pilkada serentak diadakan lagi. Tapi, soal ini kita harus bersyukur ada Papa. Kelicinan Papa yang susah ditangkap itu yang bikin dia spesial. Barangkali itu juga mukzijatnya.

Minggu lalu, media sosial kebanjiran meme soal Papa, lagi. Membuat dan menyebarkan meme soal Papa bisa jadi pelarian rasa frustasi masyarakat Indonesia yang tidak berdaya saat melawan koruptor. Rasanya itu seperti kau dipukuli sampai babak belur tapi tidak berdaya buat melawan. Tapi meme adalah perlawanan yang seburuk-buruknya.

Kesadaran warga atas brengseknya pejabat tentu patut diacung jempol kanan kiri atas bawah. Kesadaran ini muncul lantaran warga muak selama ini kena tipu-tipu oleh pejabat-pejabat yang berjanji seolah-olah jadi penyambung lidah warga.

Tapi kalau hanya menghakimi si pejabat tentu tidak menyelesaikan masalah apa-apa selain dapat rasa puas. Saya kadang terpikir apakah kita harus menghakimi sistem? Sistem yang selama ini sudah berjalan lama boleh jadi penyebabnya. Tidak ada yang berpikir radikal macam itu. Ingat, pejabat macam Papa itu dipilih oleh jutaan orang di Indonesia lewat pemungutan suara. Ingat juga, pejabat-pejabat ngaco bukan cuma dia seorang.

Meski begitu, demokrasi bukanlah masalah sebenarnya. Demokrasi itu baik, kalau benar-benar dijalankan sesuai hakikatnya, langsung. Saya pikir, kita bermasalah dalam kedaulatan menentukan nasib sendiri. Kita terlalu bergantung dengan para oligarki brengsek yang sudah menguasai negara selama ini. Kita sudah terlalu lama membiarkan para oligarki itu yang mengatur hajat hidup kita. Lama-lama soal berak pun diatur.

Itu baru soal pejabat yang nganu. Bagaimana dengan isu sosial lain? Berapa banyak meme yang beredar soal penyerobotan lahan oleh korporasi raksasa rakus? Seberapa banyak meme yang mengangkat isu kelas? Selama ini, saya hanya melihat satu dua saja. Tidak banyak, atau memang saya yang kurang gaul.

Kesadaran isu kelas memang rendah atau sama sekali tidak ada.Tampaknya kita memang nyaman dan merasa semua baik-baik saja. Kita baik-baik saja saat tahu ada orang yang menipu dan menjual lahan warga dengan tidak adil kepada perusahaan perusak lingkungan. Padahal kelakuan tadi juga termasuk korupsi. Kita tak punya kedaulatan menentukan hak sendiri. Jangankan punya, sadar kemudian nanti menuntutnya pun tidak pernah.

Saya ingat novel 1984, George Orwell, novel ini bercerita soal bagaimana sebuah negara bisa secara sistematis mengungkung warganya dalam sebuah pemerintahan yang otoriter. Tapi warganya merasa semua baik-baik saja. Tapi ini hal lain lagi.

Kita juga baik-baik saja saat negara dengan seenaknya menggusur tempat tinggal warga atas nama pembangunan. Kita juga suka mencap warga yang menolak digusur ini dengan macam-macam sebutan. Mulai dari “tidak nasionalis” sampai PKI. Ya, cara paling mudah memprovokasi orang Indonesia adalah dengan cara mencap seseorang dengan simpatisan PKI.

Bahkan membela para bos-bos perusahaan yang memeras tenaga kerjanya dengan brengsek. Biasanya kita bilang begini,” buruh-buruh ini nggak tahu diri ya, udah dikasih kerjaan, masih aja demo. Nggak ada syukurnya apa,” kalimat-kalimat ini tentu bikin panas kuping.

Sayang sekali kalau kita cuma menghabiskan energi untuk Papa saja. Padahal isu ketidakadilan dan ketimpangan sosial itu lebih penting dan mendesak. Padahal kalau saja semua energi kita dihabiskan untuk nyinyir atau menghakimi penyebab ketidakadilan dan ketimpangan, saya pikir itu lebih baik. Ketimbang cuma menghakimi papa dan akhirnya membuat kabur masalah yang nyata.

Kapan kita bikin meme bos-bos brengsek yang menguras tenaga kerjanya dan memberi upah murah?