Santri Milenial; Kampanye Pesantren di Dunia Digital


Santri
https://tirto.id

Gempita kaum sarungan barangkali sedang bersemarak kemarin. Menyeruak sedari lini media sosial, apel peringatan di tugu proklamasi sampai hujan shalawat Nariyah di bumi Nusantara.  Sejak diresmikanya tahun 2015 silam, Hari nasional kaum sarungan selalu memiliki perayaan unik dan tidak biasa. Kirab sepanjang pulau Jawa di tahun lalu dan tagline Santri Milenial diangkat menjadi poros utama perayaan di tahun ini.

Diksi milenial belakangan ini  memang sedang lekat-lekatnya mendapat perhatian masyarkat gawai Indonesia. Seringkali kata itu disandingkan dengan hal yang bernuansa baru dan juga berbau digital. Kata Milenial bahkan mampu melipir-melipir di kalangan kaum sarungan yang kerap disebut  udik dan kudet dari teknologi, yang saban dina nya  nyerut – pensil – lan udud, saban bengin ya cuma kenal ngaji lan ngrewangi.

Sebelum milenial itu dilekatkan dengan kaum sarungan, barangkali saya mau cerita sedikit soal sabab-musababnya. Mbok yo santri milenial juga ga tiba-tiba ada tho? Wong Pak harto aja ga tiba-tiba kok menclok jadi presiden. Ada kudeta dulu, bantai PKI dulu dan tentu saja supersemar yang masih kontroversial.

Tapi cerita santri milenial ini tak seseram cerita pak harto kok. Berawal dari suatu malam, saya berjumpa dengan salah satu penasihat Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara untuk meminta waktu  mengisi acara di Ciputat. Sebut saja namanya Gus Rom. Beliyo memang pemuda enerjik, sudah keliling nusantara juga sempat singgah ke beberapa negara tetangga, tapi entah mengapa, beliyo ini susah sekali singgah di kursi pelaminan.

Sudah saya katakan niat dan maksud malam itu ketika bertamu serta sowan. Beliyo pun tak lama mengucap kesediaan datang dan mengisi acara. Namun sebagai santrinya, tentu saya tak langsung pamit. Biasalah, kita temukan basa-basi dan nostalgia lama. Kebetulan yang disinggung adalah logo forsila, sebuah oranisasi alumni Buntet pesantren di Ciputat. Ia minta logo itu diganti dan menjamin pembuatan logo baru.

Komputer dinyalakan, buka photosop dan mulai bergerilya menemukan inspirasi logo baru forsila. Beberapakali ia edit foto dan mengubah text, beberapakali pula beliyo mengeluh. Sampai akhirnya yang digarap bukan sebuah logo, tapi justru sebuah desain Santri Milenial terpajang di depan layar. Beliyo kemudian mencari definisi yang pas dari ‘Santri Milenial’. Cukup lama dan memakan waktu. Namun berselang sahutan ayam jago, definisi itu akhirnya ditemukan; spiriually active digital natives.

Secara sederhana definisi ini bisa dialihbahasakan menjadi ‘penduduk asli digital yang spiritualnya sudah diaktifasi’, baik oleh dirinya sendiri atau oleh pesantren tempatnya mondok. Namun dalam skala luas, Santri Milenial memang dipreteli dari generasi milenial.

Milenial bisa berarti sebuah sebutan untuk anak-anak muda yang lahir setelah tahun sembilan puluh. Dimana, tentu saja, milenial menempatkan santri hari ini masuk dalam kategori generasi tersebut.  Generasi ini lahir saat dunia sudah kian langgeng dengan digital. Mereka masuk sebagai penduduk asli digital, bukan imgran dari generasi sebelumnya yang saat lahir belum ada dunia digital.

‘Spiritually active’ menyimpan titik perbedaan antara santri dan generasi milenial. Barangkali pembedanya, Santri Milenial memiliki porsi spiritual yang sudah tertanam dalam dirinya untuk bergerak di dunia digital, sementara generasi milenial tidak. Mereka bisa gunakan media sosial dengan tidak meleburkan identitas ke’santrian’nya masing-masing, bahkan lebih dari itu, mereka kini berkoloni bersama menyediakan arus informasi keislaman digital. Artinya, bukan semata santri milenial ini bertujuan mengislamkan masyarakat digital atau men-santri-kan generasi milenial. Santri Milenial hanya berusaha mengimbangi arus informasi islam yang justru didominasi ustadz televisi dan jauh dari nilai pesantren.

Sederhana saja, manusia zaman now mencari pengetahuan seputar islam bukan datang ke surau dan ke pondok pesantren, mereka justru cukup membuka jendela gawai pribadi. Melumat artikel yang jauh dari wajah islam ramah, menemukan ceramah seorang ustadz yang mengumbar umpatan dan kemarahan, dan tergerus dengan ajakan jihad yang salah kaprah. Apalagi mereka harus bertemu dengan pasukan khilafah yang menolak pancasila. Wadah bubar, rek, indonesia iki!

Belum lagi banyak figur pesantren yang memang belum dikenal baik oleh masyarakat luas. Mereka mungkin hanya kenal ustadz televisi sejak timbul hingga tenggelamnya model Ustadz Solmed, Arifin Ilham, Aa Gym, Felix Siauw atau Khalid Ba’salamah, sementara para kyai dari lingkungan pesantren jauh belum mereka kenali. Ini bukan semata mereka tak mau kenal, namun justru kita yang dari pesantren ini memang belum masif mengenalkan sosok kyai dari pesantren. Kita masih kalah dari mereka yang berhasil membranding tokoh-tokohnya. Wong kita jarang-jarang, tho, bikin tulisan tentang kyai kita sendiri, cerita soal kyai kita yang kharismatik di pesantren?

Di sinilah barangkali posisi santri milenial berjihad digital, mengenalkan sosok kyai karismatik seperti sosok Gus Mus, Kyai Aqil Siroj atau Habib Luthfi. Mengenalkan sosok kyai kita di pesantren, menuliskan hal istimewa yang pernah kita dapat, mengabadikan cerita bersama kyai. Memberikan wawasan keislaman pesantren untuk mengimbangi arus informasi islam tetangga. Menawarkan pemahaman islam yang lebih lentur, tidak kaku dan toleran. Mengurangi kebencian di panggung digital dan mengikat silaturahmi di media sosial.

Lantas dimana keberkahan seorang santri akan didapat bila melulu bermain di dunia digital? Dawuh Gus Nadhir, berkah santri milenial bukan lagi dari sebutir nasi terakhir di atas nampan, sudah lebih lentur, berkah juga barangkali bisa ditemukan saat ia mengajak swafoto bersama kyai. Sudah banyak tho kyai kita yang mau diajak berswafoto? jadi jangan ragu, berselfilah, maka keberkahan itu ada.