Upaya Menempa Ingatan


usut-kasus-munir
Foto: https://news.okezone.com

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari kesalahan”

Sebuah kalimat yang nampaknya sangat cocok untuk membuka kembali kotak pandora yang lama terkunci. Memang sangat sulit untuk tidak mengorek bagian tubuh yang koreng karena kudis kekuasaan, jika tidak dikorek rasanya akan sangat gatal dan mampu membuat kegatalan semakin mendera, bekas kudis harus selalu kita pantau agar jangan sampai kudis menghinggapi tubuh kita kembali karena kita lupa bahwa pernah terpapar kudis itu sendiri. analogi ini sebenarnya untuk mengingatkan kepada kita bahwa memelihara ingatan harus tetep diperjuangakan jangan sampai kita terjatuh dalam lubang sama karena kita lupa akan dosa masa lalu sehingga kembali menjalankan dosa yang sama.

Harus diakui membangun budaya mengingat lebih sulit daripada membangun budaya menghujat, karena menghujat tak perlu membuka kembali memori yang sudah semakin usang   cukup melontarkan hujatan yang ingin dilontarkan tanpa berpikir lebih mendalam. Apakah kita membutuhkan suplemen pengingat agar kita tetep memelihara ingatan kita, suplemen ingatan bukan hanya bentuk sirup atau tablet tapi dalam bentuk jamu perbaikan peradaban.

Sungguh ironi memang ketika penduduk bangsa ini sudah direpresi dan direduksi daya ingatnya karena hegemoni kekuasaan yang lama, sehingga mampu melemahkan bahkan mematikan saraf ingatan yang ada diotak dan dihati masyarakat kita. Kita semua tahu hal ini sebagai bentuk suatu keberhasilan indoktrinasi kebencian yang dapat diturunkan seolah-olah itu terkandung secara esensial sehingga bibit-bibit kebencian tetap terpelihara dengan baik malah tambah subur ketika mendapat sokongan dari kalangan pemerintahan. Hal ini menyebabkan bibit bibit pemelihara ingatan sulit untuk berkembang.

Ketika bibit-bibit “politic of memory” tidak dapat tumbuh dengan baik muncul sebuah ketakutan dibenak saya, hal ini dapat berdampak negatif terhadap pola pikir dan cara pandang kita menyikapi permasalahan yang mengandung isu-isu yang rentan untuk ditunggangi oleh narasi kebencian. Contoh adanya pandangan bahwa eks PKI merupakan golongan  yang harus dimusnahkan dan dienyahkan dari segala aktivitas yang berkorelasi dengan kepentingan negara, kemudian mereka mendapat label the other atau sang liyan dari masyarakat karena legitimasi dari penguasa untuk menjaga tahta.

Tanpa kita sadari hal ini ternyata menjadi sebuah nilai yang dipercaya dan dipegang sampai sekarang meskipun hegemoni kuasa itu sudah tumbang 18 tahun yang lalu. Ini menunjukan sebuah keberhasilan kemenangan tiran untuk memelihara narasi kebencian dan mereduksi daya ingat serta sensibilitas masyarakat akan segala bentuk ketidakadilan. Dampak dari keberhasilan pelabelan ini, masyarakat diupgrade untuk menjadi robot yang bisa dijalankan oleh penguasa, sehingga menghasilkan collective conciusness berupa kesadaran palsu yang mengukung masyarakat dan parahnya diturunkan kepada generasi selanjutnya melalui narasi kesejarahan yang tak memihak kepada kebenaran.

Sangat disayangkan, jika kita ingin menebarkan bibit-bibit “politic of memory”, kita sebagai sebuah bangsa harus memiliki alat yang dapat menjembatani ini semua. Cara yang paling efisien adalah adanya lembaga baik independent maupun yang berhubungan langsung dengan pemerintah untuk mencatat segala peristiwa bisa menjadi bahan pelajaran yang berguna dimasa depan, baik itu berupa lembaga yang berkorelasi dengan pencatatan dan pengarsipan sejarah, atau pers yang sehat dan berkualitas maupun peran dari budayawan untuk menjadi penghantar kita memahami seluk-beluk problem masa lalu agar tetap menumbuhkan dan memelihara ingatan.

Namun bagaimana kenyataanya, pers kita hanya terbuai akan demand pemberitaan, pers kita terjebak dalam dinamika kapitalisasi informasi, tanpa menyentuh nilai-nilai dan fakta-fakta yang dapat terungkap dari sebuah peristiwa. Apakah masih ingat ketika sebuah kelompok study seksualitas dan gender di Universitas Indonesia yang mendapat serangan dari salah satu lembaga pers yang memiliki segmentasi pembaca yang luas, sehingga hal ini berdampak upaya pengarahan opini kebencian di muka publik.

Tak hanya itu, mereka menggunakan berbagai cara untuk mengangkat sebuah berita walaupun itu kurang kredibel kebenaranya dengan melanggar etika jurnalistik yang berlaku seperti contohnya penggunaan oknum sebagai narasumber palsu dalam memanipulasi sebuah materi berita. Dalam kategori ini terlihat memang butuh sebuah keseriusan dari semua pihak untuk menyemaikan benih benih ingatan agar selalu tertanam pikiran untuk melawan lupa dalam benak masing masing individu di negara ini.

Kita tahu efek dari represi tingkat tinggi menghasilkan tatanan masyarakat yang cenderung sulit untuk diajak melawan lupa, hal ini berdampak terhadap pandangan masyarakat akan dosa terhadap masa lalu mudah sekali untuk dilupakan. Apakah kita masih pada ingat tragedi talang sari, tragedi semanggi satu dan semanggi dua, tragedi tanjung priok, tragedi G 30/S PKI, dan tragedi penculikan dan penghilangan paksa sampai yang terakir adalah tragedi pembunuhan aktivis buruh dan HAM seperti Marsinah dan Cak Munir yang sampai saat ini belum diketahui bagaimana kejelasanya.

Terdapat berbagai contoh kegagalan bahwa negara ini kurang peduli untuk merawat ingatan yang berdampak terhadap tindakan yang melanggar nilai-nilai keadilan. Namun kenapa negara seolah-olah tak memperhatikan malah cenderung terdapat upaya pembiaran yang mengarah kepada dukungan, kita bisa berkaca dari kasus yang sedang hangat diperbincangkan beberapa bulan belakangan.

Penghembusan narasi kebencian terhadap sesuatu yang berbau kiri.

Beberapa bulan lalu aroma bau anyir yang timbul akibat kebencian terhadap terhadap gerakan kiri semakin tersembul dikarenakan adanya sebuah event yang bertajuk ajakan untuk mengenal sejauh mana sejarah kelam bangsa ini. Namun kita tahu acara tersebut sempat terhenti karena ulah beberapa kelompok mahasiswa yang mengklaim dirinya sebagai Himpunan Mahahasiswa yang berintelektual namun menurut saya mereka tidak pantas mendapat sematan Himpunan karena lebih pantas disematkan term gerombolan karena kelakuan mereka yang lewat dari etika akademik yang seharusnya mereka junjung dan cenderung berbau aroma politis yang ditunggangi kepentingan besar untuk mencegah upaya penyemaian “politic of memory” dalam masyarakat kita.

Sebuah ironi memang ketika masyarakat kita pun masih terjebak dalam kardus pikiran buatan orde baru, ketika dengan mudahnya melakukan pembredelan dan pelarangan aktivitas-aktivitas yang menyangkut gerakan yang berhaluan kiri, menurut saya mungkin terjadi misinterpretasi terhadap pergerakan reformasi dan cenderung mengarah kepada interpretasi yang bersifat parsial sehingga dalam menyikapi berbagai permasalahan masyarakat masih gagal untuk move on dari pola pola yang diterapkan oleh orde baru sehingga cenderung mengarah kepada tindakan pengebirian intelektulitas dan kekebasan.

“Tak hanya sampai disini, nampaknya virus kebencian sudah menjalar ke ranah pengetahuan, mengakibatkan tersebarnya penyakit kegagapan yang sangat memalukan”.

Beberapa minggu ini saya sempat termenung ketika membaca berita dari CNN Indonesia yang menyebutkan bahwa buku kiri akan ditarik sampai akir bulan, saya sempat tercengang, Ada apa dengan negeri ini? Saya mencoba berfikir positif saja, hal ini adalah upaya pemerintah untuk mempromosikan buku “kiri” agar anak mudanya pada penasaran dan menumbuhkan minat baca dikalangan generasi muda, sehingga terbangun opini dimasyarakat “Ada Apa Dengan Kiri”, hasil nya anak muda akan berbondong bondong membaca Das kapital ataupun manifesto kuminis.

Hal ini sebenarnya upaya pemerintah saja supaya warga negara sadar gerakan literasi terutama buku buku yang terlabeli “kiri”. Kita harus mengapresiasi apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini karena sudah berusaha membrangus sumber sumber pengetahuan, (red: harapan penulis).

Menarik jika kita menganalisa apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan segala usahanya menegakan simbol kekuasaan. Mereka melakukan segala cara dengan dalih memelihara ketertiban, sampai-sampai mereka lupa cara yang dilakukan absen dari nilai keadilan, apakah ini yang dinamakan promosi kebiadaban?

Runtutan alfabet dalam artikel ini hanyalah curhatan bagi mereka yang bertanggung jawab terhadap isu pemberedelan sumber pengetahuan, sekaligus ungkapan terimaksih bagi “papa” pemerintahan yang telah menjalankan mekanisme kegelapan demi terwujudnya kepentingan penutupan pintu pencari keadilan.

Terimakasih “papa” bangsa, dijaman pemerintahan mu ini negara sangat kondusif saking kondusifnya sampai sampai toko buku pun menarik buku buku yang kau anggap sumber keonaran dan kebengisan. Kemudian kau embel-embeli dengan teror bahaya laten kuminis, drama macam apa yang kau mainkan yang mulia, skenariomu sungguh indah, kita tahu, sebentar lagi akan ada lolongan sekelompok manusia yang sedang bermunajah pada tuhan dihadapan regu tembak bersenjata lengkap, ditengah pulau terpencil ditemani guyuran ombak lautan selatan dan mungkin juga akan disaksikan oleh ratu pantai selatan.

Nyawa mereka bergantung pada sepucuk senjata dan sabda yang mulia. Apakah ini yang ingin kau sembunyikan dari kami yang mulia? apakah ini upaya untuk menyembunyikan berita kematian di Nusakambangan? namun apakah elok jika yang mulia menumbalkan sumber pengetahuan.

Sumber sumber pengetahuan engkau musnahkan, dengan dalih memelihara ketertiban. Apakah engkau ingin generasi muda Indonesia itu gagap pemikiran yang mulia? Lantas untuk apa kau dirikan universitas kalau ternyata didalamnya diajarkan pemikiran yang kau larang.

Mungkin yang mulia perlu membaca ulang,  bagaimana para pendiri bangsa ini merumuskan dasar negara kita. Seokarno seorang pembaca Das kapital, apakah engkau tidak malu ketika mendapat teguran dari Soekarno dari alam kubur, apakah engkau tidak gusar ketika para pendiri bangsa menangis kelejotan karena melihat drama yang kau lakukan ?

Mungkin “papa” sedang menginginkan romanticism pemerintahan ala, “Orde Baru” dengan segala bentuk pola pola yang diterapkan untuk menyukseskan peniupan gelombang “Bahaya Laten Kuminis”. Apakah engkau juga ingin meniupkan ulang narasi kebencian yang menumbalkan jutaan orang yang mulia? bahkan engkau berusaha meniupkan kebencian lewat ilmu pengetahuan, cara yang mulia sangatlah briliant.

Lalu apa bedanya Indonesia sekarang dengan masa Dark ages di Eropa? ketika terdapat upaya pemusnahan sumber sumber pengetahuan yang dianggap “menyimpang”. Buku itu sarang pengetahuan sekaligus disana terkandung bibit bibit pencerahan, ketika yang mulia menghanguskan bibit bibit pencerahan, apakah kita akan kembali ke zaman kegelapan?

Tak hanya buku yang kau takutkan, namun kaos-kaos pun kau musnahkan. Pemusnahan hanya karena dianggap mengandung simbol yang telah engkau labeli dengan klaim “Palu-Arit”  lantas segala bentuk tindakan dibenarkan, walaupun itu menyimpang dari nilai-nilai keadilan.

Apakah negara ini sedang di “sakitkan”, karena sekelompok orang tak menginginkan penduduk Indonesia mengetahui makna keadilan,  Disakitkan karena sekelompok orang menginginkan tetap terpelipahara “kebencian”, dan disakitkan karena sekelompok orang menginginkan adanya “sang lian”, disakitkan agar Indonesia melupakan tragedi kemanusian, dan disakitkan untuk menutup pintu “keadilan”. “Semoga negara ini tidak mengalami kesakitan karena disakitkan”

Terkatung-katungnya penanganan pelanggaran  HAM berat yang belum menemukan titik terang.

Apakah kita pernah bertanya mengapa pelanggar  HAM berat sampai sekarang masih duduk santai di kursi goyang sambil menyeruput kopi hitam dan menghisap cerutu. Padahal mereka inisiator dari penghilangan paksa dan pembantaian yang memakan banyak korban. Mereka seperti kebal terhadap ancaman sistem hukum yang berlaku di negeri ini. Jangankan untuk dibawa ke bilik jeruji, membawa berkas mereka menuju meja pengadilan pun menjadi suatu kenihilan.

Tak hanya itu, banyak dari aktor utama pelanggar HAM kini tetap mememiliki kedekatan dengan pemerintahan sekarang, jika kita mengingat bagaimana indonesia melakukan invasi terhadap Timor Timur pada tanggal 7 Desember 1975, terdapat berbagai kesalahan fatal yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia,  kala itu pemerintah Indonesia melakukan tindakan ini dikarenakan adanya desakan dari Amerika dan Australia yang menginginkan Fretilin yang berpaham komunisme tidak berkuasa di Timor Timor, namun pada kenyataanya invasi tersebut mengakibatkan warga sipil yang menjadi korban.

Sebenarnya yang menjadi momok utama adalah saat tentara nasional Indonesia meninggalkan luka yang mendalam bagi penduduk sipil Timor Leste, para tentara bukan hanya menghilangkan nyawa saudara-suadara mereka, namun juga menempelkan tinta darah yang berbalut penderitaan terhadap masyrakat sipil. Tak hanya itu upaya penaman hegemoni kekuasaan juga terjadi melalui cara kebiadaban, berapa banyak selaput dara yang robek akibat pelampiasan nafsu dari kelompok berbaju doreng asal Indonesia? berapa banyak nyawa yang menghilang tanpa kejelasan? berapa puluh ribu masyarakat sipil mengalami trauma berkepanjangan.

Lantas kepada siapa mereka meminta pertanggung jawaban ? Namun kita tahu pemimpin pasukan yang menjadi inisiator penyerbuan ini sampai sekarang masih duduk di kursi goyang yang tak tersentuh hukum peradaban, apakah harus tuhan yang menjatuhkan hukuman. Kasus ini merupakan salah satu contoh kasus pelanggaran HAM dimasa lalu yang belum mendapatkan kejelasan untuk diselesaikan, dan masih banyak lagi kasus kasus serupa yang seolah-olah ingin dilupakan oleh pemerintah Indonesia. Walaupun sudah dibentuk pengadilan HAM adhoc namun hasil yang diharapkan sangat mengecewakan dikarenakan banyak yang dibebaskan dari segala dakwaan.

Masih ragu untuk menempa ingatan, sebagai anak muda seharusnya memiliki tingkat kepedulian yang tinggi akan kasus kasus pelanggaran HAM karena kita merupakan generasi yang kelak akan menjadi aktor utama berjalanya roda kehidupan dimasa depan. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama dan terperosok dalam lubang pembantaian.

Ketika kita mengingat kasus kasus ini sebenarnya merupakan bentuk kepedulian kita terhadap korban dan dapat dijadikan sebagai dukungan moril bagi para korban untuk menguatkan diri mereka menjalankan kehidupan setelah ditinggalkan oleh orang-orang yang tersayang. Mari kita semaikan benih benih ingatan agar tumbuh “politic of memory” untuk mengawal keadilan.

 

Sumber Bacaan:

Walsh, Pat. (2012). Di Tempat Kejadian Perkara: Tulisan, refleksi, dan Puisi tentang Timor Leste, 1999-2010. Jakarta: Kepustakaan Gramedia Populer.

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160514200152-20-130688/gramedia-hentikan-penjualan-buku-kiri-hingga-akhir-bulan/ diakses pada 27 Mei 2016 pukul 22:32