Menanamkan Sikap Peduli


Menolong manusia
Foto: http://mabring.blogspot.co.id

Kepedulian adalah elemen dasar dalam melakukan perubahan terhadap realitas hidup yang tidak berpihak pada semua orang. Realitas hidup tidak selalu sesuai dengan harapan semua manusia, drama kosmis Adam dan Hawa adalah bukti awal akan hal itu.

Sebagaimana kita ketahui dalam kitab suci beberapa agama menjelaskan bahwa Adam harus dipindahkan dari surga ke bumi oleh Tuhan karena melanggar hukum yang telah ditetapkan. Hal ini menandakan bahwa tidak semua harapan atau keinginan bisa begitu saja dilakukan ada aturan main di dalamnya dan perlu usaha dalam menggapai keinginan karena mustahil begitu saja tanpa adanya usaha.

Sejarah mencatat berbagai macam usaha telah dilakukan oleh mereka yang ingin mewujudkan keinginannya, seperti halnya kisah heroik dari pelbagai bangsa di dunia yang ingin mewujudkan kemerdekaan untuk rakyatnya. Kisah heroik yang bercerita tentang perjuangan para ksatria beserta pasukannya yang mengorbankan jiwa, raga dan hartanya untuk suatu keinginan yaitu tatanan hidup yang lebih baik dan terbebas dari belenggu penjajah. Kisah-kisah itu hampir semuanya didasari oleh kepedulian terhadap sesama manusia dan ditegakan dengan usaha keras dalam mewujudkannya.

Namun sebuah kepedulian haruslah didasari oleh sikap persamaan derajat kemanusiaan, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Sikap persamaan itulah yang akan menjadi pondasi kokoh dalam membangun kepedulian sesama manusia.

Kepedulian sesama manusia sekarang ini semakin dirasa penting, karena penampakan wajah dunia yang semakin rumit untuk dipahami. Dunia berputar lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, arus global di luar batas yang bisa dikendalikan, semuanya terjadi karena perkembangan teknologi yang terlampau cepat.

Manusia sekarang berdiri di atas bumi dengan berlandaskan teknologi canggih atas nama pengembangan dari ilmu pengetahuan yang berfungsi sebagai alat bantu manusia itu sendiri. Dengan teknologi canggih jarak antar tempat tidak lagi jauh, semuanya berada lebih dekat dan mudah dikendalikan.

Rumitnya memahami dunia sekarang sedikit demi sedikit mengikis kepedulian antar sesama, bayang-bayang pencapain prestasi materi tertinggi telah merasuk dan mendarah daging di setiap individu. Sekarang ini hampir semua manusia berlomba-lomba menggapai misi pribadinya masing-masing, mulai dari misi akademis, politis, dan sosial yang semuanya bermuara pada uang sebagai alat tukar dan pengendali dunia.

Pertentangan kelas yang dirumuskan oleh Kark Marx makin terlihat tajam namun dengan gaya yang terlihat lebih lunak dan samar-samar. Teori marxis yang sudah berkali-kali di interpretasi pun pada akhirnya hanya menjadi bahan teori bagi teori lainnya, aksi yang merupakan tujuan dari teori tidak pernah terlihat lebih mencolok dari satu abad yang lalu, mungkin saja karena orang-orang trauma dengan kematian yang selalu menyertainya.

Peran lembaga pendidikan pun rasanya gagal mencetak manusia-manusia berjiwa manusiawi, karena yang terjadi mereka bahu-membahu membangun menara gading yang tinggi. Di menara itu mereka saling berkelahi beradu teori, membuktikan bahwa dirinya lah yang paling benar dan berhak mendapat imbalan berupa selembar ijazah dan jaminan pekerjaan demi uang yang menjadi tujuan. Dalih perjuangan demi uang pun seringkali dimanipulasi dengan tutur kata yang bersifat akademis bahkan dengan riset empiris untuk pembuktiannya.

Perguruan tinggi di Indonesia ini berlomba-lomba mengejar sertifikasi kelas nasional maupun internasional, karena dengan itu maka harga diri kampus akan naik dan peminat akan bertambah maka secara otomatis pundi-pundi uang bisa dikeruk sebanyak-banyaknya. Belum lagi kurikulum yang disajikan ke hadapan mahasiswa adalah tumpukan pelajaran yang menggunung dan harus diselesaikan dengan waktu sesingkat-singkatnya.

Mahasiswa bagai kuda pacuan yang dilatih berlari kencang tanpa mengerti arti dari lari itu sendiri, belum lagi hukuman drop out (DO) selalu mengintai setiap hari. Jika seperti itu maka jelaslah bahwa perguruan tinggi tidak ada bedanya dengan peternakan kuda yang mengembang biakan manusia-manusia yang tidak memahami makna kehidupan yang sesungguhnya.

Mahasiswa kehilangan identitasnya sebagai manusia, mereka menganggap dirinya manusia setengah dewa yang tahu segala hal dan menganggap orang lain tidak lebih tahu darinya. Sifat kedewaan ini adalah yang mematikan kepekaan sosial mereka, menganggap bahwa yang harus dikejar adalah gelar dan jabatan serta bumbu-bumbu pujian sebagai mahasiswa berprestasi.

Namun apa yang terjadi saat mereka pulang ke daerah asalnya, sebagian dari mereka kebingungan harus bersikap seperti apa karena tidak terbiasa dengan dunia nyata yang berbeda dengan dunia kampus yang dijalaninya. Pada akhirnya gelar sarjana dan setumpukan prestasi tidak laku untuk dipamerkan di kampungnya sendiri, karena pada kenyataanya orang kampung membutuhkan pikiran dan aksi nyata dari itu semua.

Kembali pada kepedulian yang menjadi elemen dasar perubahan, manusia terpilih layaknya mahasiswa harus mempunyai konsep yang tepat dalam menyusun strategi tidak asal jadi. Strategi membuat perubahan atas keberpihakan kepada wong cilik harus disusun dengan cermat agar misi yang dijalankan tidak gagal. Semangat anak muda yang tercermin dalam diri mahasiswa harus terekpresikan dengan maksimal, bukan lantas jatuh harga diri setelah lembaran demi lembaran uang masuk menyesaki dompet.

Sikap yang kuat dalam melawan segala bentuk usaha yang bertendensi mematikan arah gerak terhadap perubahan harus senantiasa menjadi prinsip hidup, karena tidak bisa dipungkiri sekarang ini manusia terpenjara oleh insting hewani mereka. Insting hewani ialah yang memenjarakan kita dari fitrah manusia sebagai makhluk yang peduli dan welas asih, kekuasaan atas segala hal menjadi dasar dari matinya fitrah kemanusiaan.

Konsep dan strategi harus diiringi dengan praktik atau aksi nyata, kosong dan sia-sia rasanya jika tanpa aksi. Aksi pun harus diringi dengan sikap yang tulus tanpa pamrih sehingga semakin menjadikan kita sebagai manusia yang hakiki.