Manusia Setengah Robot


Manusia robot
Foto: http://www.tulsaworld.com

Terdapat kesamaan antara hasil pikir Heidegger dan Adorno mengenai teknologi dan manusia (dan kiranya masih begitu relevan hari ini), yaitu pembalikan. Juga dengan Marcuse, Heidegger memiliki kemiripan dalam hal teknologi dan manusia. Tidak heran karena Marcuse memang pernah menjadi murid dan terinspirasi dari Heidegger. Namun uniknya, kesamaan Heidegger dalam melihat hubungan teknologi dengan manusia tidak dengan perspektif kritis, marxis; toh, ia malah sempat bergabung dengan Nazi.

Heidegger menganggap kebenaran atau truth adalah ketidaktersembunyian, yang-menampakkan-diri atau revealing. Teknologi adalah salah satu revealing. Salah satu dari sekian banyak. Untuk memahami hal ini, mungkin perlu diadakan pembacaan lebih dalam mengenai filsafat Heidegger, khususnya mengenai Sein (Ada atau Being) dan seiende (adaan atau being).

Teknologi, Heidegger menyebutnya Ge-stell, adalah sebuah instrumen bagi manusia dalam mencapai apa yang diinginkan. Teknologi juga merupakan sebuah hasil produksi manusia. Namun, seiring pergaulan teknologi dan manusia yang kian intens, manusia jadi terbawa dalam melihat segala sesuatunya secara teknologis. Dalam artian, sesuatu dipandang dari sisi seberapa ia dapat dimanfaatkan, dijadikan suplai, atau Heidegger menyebutnya ‘standing reserve’, tidak terkecuali manusia itu sendiri. Segala sesuatu yang mendekati kita semata dianggap sebagai hal yang harus diatur, dianggap sebagai sumber energi. Meskipun begitu, Heidegger sendiri tidak menganggap hal ini sebagai kesalahan manusia. Karena bagaimanapun, ini adalah salah satu dari revealing. Menghindarinya adalah dengan mencari jalan menuju revealing yang lain, menuju hakikat manusia.

Cara berpikir teknologis seakan menjadi cara berpikir resmi hari ini. Dapat kita temukan betapa  seseorang menempuh berbagai pendidikan formal dari SD hingga Sarjana dengan tujuan dapat menjadi sumber-daya-manusia-yang-kelak-berguna-bagi-sebuah-perusahaan-besar (kalau bisa, sih, asing pula). Sebut saja, calon human resource. Pun, kesuksesan yang diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, yang notabene juga seberapa besar perannya dalam sebuah pekerjaan (perusahaan). Jika dilihat dari sudut pandang kritis, Marcuse dalam hal ini, menunjukkan kondisi kita berada dalam sebuah sistem yang totaliter. Manusia saja diinstrumentalisasi, apalagi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya dianggap ilmu pengetahuan sejauh ia berguna dalam menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu, yang dapat meningkatkan keuntungan. Sistem ini tentu tidak terlihat merepresi kebebasan secara kasat mata, tapi jika ditinjau lebih jauh, malah lebih dari sekadar merepresi, sistem ini menentukan mana yang harus dijalankan dan mana yang harus ditinggalkan. Terlebih, sistem ini mengungkung semua manusia di semua negara.

Kebebasan hari ini tidak lebih sebuah ilusi sistem tersebut. Manusia kemudian diarahkan kepada lingkaran setan tradisional: produktivitas yang mesti dijamin demi menghasilkan produk konsumsi dan produk konsumsi yang harus terjamin daya jualnya hanya dapat ditunjang lewat produktivitas manusia (karena menghasilkan uang, sesuatu yang dapat membeli produk konsumsi). Namun, sistem ini sepertinya sadar kalau tidak dihias secara ciamik, manusia tidak akan menjadi manusia setengah robot, maka diberilah kesan bahwa manusia memang sebenarnya bebas dengan pilihan-pilihan. Bagaimana mungkin kita menyalahkan Starbucks, Justin Bieber, atau Marvel karena mematikan sikap kritis kita? Toh, Starbucks lah yang menemani kita ketika membuat tugas. Lalu, Justin Bieber yang melepaskan kita dari segala beban skripsi. Dan, film-film Marvel yang mungkin dapat dikaji menjadi bahan penelitian mahasiswa ilmu komunikasi semester akhir.

Pada akhirnya, Marcuse beranggapan, kita sungguh menjadi one-dimensional man karena tidak ada oposisi atau alternatif lain terhadap sistem tadi bagi kita. Mungkin, kita harus menemukan revealing lain seperti kata Heidegger agar tidak menjadi seorang cyborg.