Jalan Terakhir, Tolak Proyek Geothermal


Selamatkan Gunung Slamet
Foto: http://regional.liputan6.com

Kalau pemerintah pusat, provinsi sampai dengan kabupaten/kota hanya melihat alam dari perspektif yang sempit tentu memaknai alam sebatas untuk memenuhi hajat hidup manusianya, sebab ketergantungan (dependensi) terhadap alam. Alamlah yang menjadi tempat hidup manusia serta alam juga menyediakan segala sesuatu untuk kelangsungan hidup manusia.

Dependensi bangsa Indonesia terhadap alam dapat dilihat dari pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) yang tergolong besar tanpa melihat kelanjutan fungsinya. Desentralisasi yang diterapkan di Indonesia cukup mempertajam permasalahan pengelolaan lingkungan hidup yakni pemanfaatan sumber daya alam di daerah. Ini memungkinkan masing-masing daerah melakukan eksploitasi kekayaan alam masing-masing yang pasti akan berdampak pada lingkungan.

Diperparah dengan memposisikan alam dengan lebih mementingkan dan mendahulukan soal politik dan ekonomi, eksploitasi sumber daya alam yang tidak mempunyai management control yang ketat kiranya sangat berpotensi hanya menguntungakn beberapa pihak. Dengan konsekuensi-logis menambah kerusakan lingkungan dan meniadakan hak rakyat kecil.

Lingkungan menjadi persoalan yang sistemik sosial masyarakat seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap produk-produk yang dieksploitasi dari alam, masyarakat yang berpola destruktif mengkhawatirkan bagi kondisi alam karena mengancam keselamatan alam dan manusianya.

Kerusakan alam jelas menimbulkan bencana yang mudah saja menelan korban. Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan respons dan control oleh semua lapisan masyarakat untuk menjaga serta melestarikan alam untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan lingkungan akibat aktivitas pembangunan proyek geothermal yang ekspolitatif dan tidak bershabat dengan alam.

Sejak ditemukannya sumber energi listrik di lereng hutan lindung Gunung Slamet Jawa Tengah seolah menjadi harta karun bagi pemburu proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi, kedatangan PT. SAE (sejahtera Alam Energi) yang dimodali perusahaan asing asal jerman benar-benar menyulap wajah lahan di lereng gunung slamet (alas dringo). Yang jadi permasalahan adalah berbagai dampak lingkungan akibat penambangan yakni rusaknya ekosistem, material sisa/limbah, keruhnya air sungai yang menjadi sumber untuk Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) masyarakat dan dalam jangka panjang yang belum dirasakan.

Dengan banyaknya dampak negatif yang di timbulkan akibat proyek PLTP di kawasan Gunung Slamet, masalah lingkungan akibat kerusakan alam terus memberikan dampak sistemik terhadap kesejahteraan masyarakat kedepannya. Sehingga masyarakat harus merespons terhadap persoalan kerusakan alam yang terjadi disekitarnya sehingga masyarakat dengan sendirinya mengambil sikap untuk menjaga serta melestarikan lingkungan, kesadaran masyarakat tentunya harus terus dipupuk.

Pembangunan ekonomi yang diberlakukan oleh pemerintah seringkali mengabaikan kemungkinan masalah lingkungan. Proyek PLTP di kawasan Gunung Slamet secara besar-besran telah melakukan eksplorasi dengan dampak yang sudah mulai dirasakan oleh masyarakat sekitar juga berpengaruh pada stabilitas ekosistem.

Kondisi ini sangat rentan terhadap potensi bencana alam. Dari pada itu kebijakan pembangunan industri yang mengabaikan perspektif ekologis memberikan konsekuensi kerusakan alam yang cukup parah dan harus tegas dalam pengawalan untuk menolaknya.

Faktor topografis juga mempengaruhi kerentanan terhadap bencana alam akibat kerusakan alam yang terjadi karena aktivitas ekplorasi dan ekploitasi sumber daya alam yang dilakukan. Kedudukan masyarakat yang subordinatif dalam proses pemanfataan tenaga panas bumi menjadikan lemahnya kesadarkan ekologis masyarakat sehingga kebijakan pemanfaatan tenaga panas bumi tidak dapat dikontrol.

Persoalan yang ada dengan adanya proyek geothermal di kawasan lereng Gunung Slamet adalah contoh dari konsep pembangunan yang destruktif, solusi dan tindakan konkret jalan yang musti dicapai karena itu dibutuhkan serta usaha kolektif dari seluruh masyarakat untuk menolak pemanfaatan tenaga panas bumi di kawasan Gunung Slamet.