Pelecehan Seksual Terhadap Mahasiswa Baru di UIN Jakarta


Pelecehan-seksual-di-UIN-Jakarta
Pelecehan-seksual-di-UIN-Jakarta

Universitas ternama sekelas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ternyata tidak terlepas dari berita miring dan kontroversial. Bukan hanya soal terorisme atau aliran menyimpang yang akrab kita dengar, beberapa hari yang lalu saat mahasiswa baru mempersiapkan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), kasus pelecehan seksual terjadi.

Salah satu lembaga ekstra kampus yang memperjuangkan hak-hak kemanusiaan, Lentera HAM menemukan adanya perlakuan yang tidak seronok dari salah satu senior terhadap mahasiswa baru. Pelakunya berinisial AS yang berasal dari Fakultas Syariah dan Hukum. Korbannya berjumlah 2 orang, dengan inisial YCA dan DD.

Pihak korban pun berhasil buka suara. Kepada Lentera HAM ia menceritakan kronologi kejadian tersebut.

Kronologi dari YCA:

  • Pada 17 Agustus 2017, AS mengirimkan pesan kepada korban untuk mengajak kenalan dan mengaku sebagai mahasiswa baru.
  • Pada 18 Agustus 2017, AS mengajak korban bertemu dengan modus mengantarkan korban ke kampus.
  • Pada 21 Agustus 2017 terduga pelaku menghampiri ke kos korban atas dasar undangan dari korban. Alasan korban mengundang karena pada awalnya ia merasa terduga pelaku adalah teman yang baik dan asik diajak ngobrol. Korban tidak menduga sesampainya di kos korban, tepatnya di ruang tamu kos, AS merayu korban dengan memuji korban, “kamu cantik, jangan senyum terus dong, nanti abang bisa diabetes”.

Tidak sampai di situ, terduga pelaku meraih tangan korban dan mencium tangan korban  lalu memegang hidung, alis dan kepala korban. Setelah itu terduga pelaku mengajak korban untuk makan namun korban tidak mau. Korban merasa tidak nyaman lalu menyuruh terduga pelaku untuk pergi dari kosnya.

Setelah itu, korban langsung bercerita kepada temannya bahwa AS telah melakukan tindakan asusila padanya dan sampai ke telinga AS. AS langsung mengirimkan pesan kepada korban dengan isi pesan yang cukup emosional bahwa si terduga pelaku tidak terima dianggap melakukan tindakan asusila.

  • Pada 23 Agustus 2017, AS kembali mengirimkan pesan kepada korban, marah-marah kepada korban karena masih tidak terima dengan apa yang korban ceritakan ke temannya
  • Pada 27 Agustus 2017, AS kembali mengirimkan pesan kepada korban, meminta maaf atas apa yang telah lakukan kepada korban. Namun korban tetap belum bisa memaafkan karena korban merasa AS telah melakukan kesalahan yang besar terhadap dirinya. Hingga korban pun akhirnya menceritakan kejadian tersebut ke Lentera HAM.

YCA bukanlah korban pertama, sebelum itu ada DD yang mengalami tindakan pelecehan yang dilakukan AS. Berikut beberapa kronologinya.

Kronologi dari DD:

  • Pada 8 Agustus 2017, AS mengirim pesan kepada korban mengajak kenalan korban dengan mengaku sebagai mahasiswa baru.
  • Pada 15 Agustus 2017 terduga pelaku mengajak korban bertemu di Student Center. Setelah pertemuan tersebut, AS mulai mengirim pesan dengan isi yang sudah mengarah ke tindak asusila. “cium gua dulu ya”, dsb
  • Pada 16 Agustus 2017, AS mengajak korban untuk bertemu di perpustakaan utama, korban mengiyakan. Sesampainya di perpustakaan utama, terduga pelaku merangkul korban lalu mencoba mencium tangan korban dan mencoba mencium pipi korban. Korban melawan dengan melemparkan HP miliknya ke muka AS. Lalu terduga pelaku langsung meminta maaf kepada korban. Korban tidak memaafkan dengan tidak merespon apapun yang dikatakan AS.
  • Pada 17 Agustus 2017, AS sudah tidak lagi merespon pesan dari korban
  • Pada 28 Agustus 2017, AS mencoba kembali menghubungi korban untuk mengklarifikasi berita tentang apa yang telah dijadikan terduga pelaku yang telah tersebar luas namun korban sudah tidak merespon.

Atas kejadian ini, Lentera HAM sebagai pihak yang mendampingi korban, membuat surat Pengaduan Pelanggaran Kode Etik Mahasiswa yang dilayangkan untuk Rektor. telah melanggar Kode Etik Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Bab IV Pasal 5 Ayat 42 agar Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang selanjutnya melalui Mahkamah Etik Mahasiswa dapat menindaklanjuti pengaduan ini demi perbaikan kualitas mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.