7 Inovasi Menuju Desa yang Kreatif


Petani desa
Foto: http://yogyakarta.panduanwisata.id

Berbicara mengenai dana desa  yang bisa dibilang banyak jumlahnya, sudah pasti berbicara tentang efektifitas penggunaannya. Pertanyaan yang sering timbul apakah penggunaan dana desa kini sudah tepat sasaran atau belum tepat sasaran?

Tenang penulis tak mau terlalu lancang bicara soal dana desa atau efektitas penggunaannya akan tetapi penulis hanya mau menawarkan 7 Inovasi menuju desa kreatif diantaranya :

Pertama, adalah Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur desa dengan Kursus Manajemen Keuangan (KMK). Karena dengan kursus KMK itu dapat memberikan pemahaman terhadap aparat desa tentang bagaimana me-manage keuangan desa dan digunakan dengan tepat sasaran serta bagaimana menggambarkannya.

Kedua, pemerintah desa harusnya merefleksikan namanya Desa BERANI (Bersih, Elok, Rukun, Aman, Nasionalis, Indah). Agar jauh dari yang namanya kekacauan dan bagaimana pembangunan desa harus melalui pembangunan mental masyarakatnya agar berani kreatif dan berbuat demi kemajuan desanya secara bersama-sama.

Ketiga, adalah bagaimana dana desa juga digunakan untuk pengadaan rumah seni dan budaya bagi desa itu sendiri. Masyarakat desa harus mampu mengembangkan minat dan bakatnya. Untuk mengembangkan minat dan bakat dalam hal seni dan budaya bisa melalui karya seni keterampilan tangan seperti, bagaimana mengolah barang bekas menjadi sebuah karya seni dan mampu menciptakan tarian kreatifitas desa yang dikolaborasikan antara adat Gorontalo, segi agama dan keindonesiaan.

Keempat,  dana desa sekiranya dapat digunakan untuk pembangunan pasar desa sebagaimana dalam pasar desa tersebut dapat kita meningkatkan pertumbuhan ekonomi didesa secara mandiri. Khususnya melalui pasar desa tersebut dapat menopang jual beli hasil-hasil tanaman petani desa dan dapat memancing para opsi pasar berjualan didesa minimal pasar desa dibangun pada lokasi stategis seperti dipusat desa.

Kelima, pemerintah desa (Pemdes) harusnya mengadakan terobosan dengan mengadakan pembentukan komunitas-komunitas bercocok tanam yang produktif dan penghasil tanaman atau sesuatu bernilai jual beli tinggi semisal Komunitas Petani Bunga Mawar dan Melati, atau bunga jenis lainnya.  Yang bisa bunga-bunga  tersebut diperjual belikan dipusat kota/kabupaten atau bahkan diluar kota atau kerja sama dengan Pemdes dengan perusahaan bunga diluar daerah melaui pemerintah daerah dengan harga menyesuaikan sesuai harga pasar atau jenis komunitas petani lainnya.

Itu bisa menopang kebutuhan dan peningkatan  ekonomi desa dan meningkatnya Pendapatan Asli Desa (PAD). Kalau hanya bergantung pada retribusi sepertinya kita hanya berjalan ditempat dan komunitas tersebut diberikan modal oleh pemdes dan bertanggungjawab terhadap pelaporannya. Minimal memancing kreatifitas masyarakat desa untuk menggunakan potensi yang ada adapun pembagian hasil penjualan tanaman atau barang kretatifitas diatur terperinci melalui Peraturan Desa (Perdes).

Keenam, Pemdes harus tegas dengan memberlakuan hari Kebersihan Desa, yang misalnya diadakan setiap rutin hari Jum’at. kebetulan hari Jum’at kan aktifitas masyarkat desa sedikit,  perlu  siapa yang pekarangan rumahnya bersih dapat diberikan piagam penghargaan atau semacam bonus lainnya yang itu penilaiannya mengundang unsur Inspektorat Daerah (ITDA) Kabupaten sebagai juri atau lembaga lainnya yang bisa diikutsertakan sebagai dewan juri.

Adapun bonus lainnya itu bukan maksud mengajarkan masyarakat desa pragmatis tapi kenapa tidak dilakukan selama itu untuk kemajuan dan keindahan desa karena penulis beranggapan bahwa nanti ada hari-hari tertentu barulah ada lomba-lomba desa bersih seakan hanya seremonial saja, makannya harus dibangum dari kesadaran masyarakat desa itu sendiri.

Ketujuh, Pemdes harus  sering-sering melaksanakan Festifal Rakyat Pedesaan (FERAKPEDES)  misal melombakan lomba macam rupa lomba olahraga, lomba makanan khas desa, tarian kreatifitas masyarakat desa bisa melalui tingkat dusun dan juga per klub/kelompok. Dan kegiatan misal lomba kreatifitas karya seni tangan dan kegiatan lainnya jika perlu memperebutkan piala bergilir Festival Rakyat Pedesaan.

Pemdes harusnya ada pengadaan penataan ruang terbuka hijau (RTH)  dipusat desa, atau taman religi, taman seni budaya, taman kebanggaan desa, dan kiranya dapat menciptakan apa yang menjadi ikon desa semisal Pohuwato dikenal dengan ikon Bundaran Panua.

Demikian tulisan singkat ini, bukan menggurui atau sok tahu tapi tiada salahnya selaku pemuda yang berasal dari desa mampu berinovasi. Jika inovasi ini digunakan oleh Pemdes terima kasih jika tidak mohon dimaklumi ini juga hanya sekedar goresan, jikapun ada yang sudah dilakukan oleh Pemdes dan tersebutkan dalam tulisan ini mohon dimaafkan dimaklumi sekiranya ini sebagai pemuda memiliki kewajiban mengingatkan sesama.