Petaka Kaum Terpelajar Hari Ini


aksi-mahasiswa

Hari ini, menjadi orang terpelajar, bukanlah ditujukan untuk mencerdaskan. Apalagi pendidikan politik jangka panjang. Menjadi mahasiswa hari ini, sepertinya hanya kesadaran akan pentingnya melengkapi kejenuhan hidup, tuntutan untuk mendapat gelar, dan pastinya hanya mengantarkan untuk mendapat kerja.

Fenomena ini semakin memperburuk kultur dialektis kampus. Orang-orang terpelajar strata satu harus lulus empat tahun, jika tidak, kampus akan men-drop out. Artinya, cita-cita mulia pendidikan direduksi menjadi cepat atau lamanya lulus. Inilah kemudian orang-orang terpelajar tertimpa beban berat dalam merampungkan studi.

Kuliah bak kesempurnaaan bagi orang terpelajar saat ini. Dan kerja adalah pilihan terakhir pasca lulus kuliah. Dalam konteks ini, kritik Pramoedya Ananta Toer dalam sekuel tetralogi buru terhadap paradoks orang terpelajar sangat tepat; Orang terpelajar cenderung melahirkan oligarki dan teknokrasi. Bagaimana mungkin orang terpelajar akan menghamba kepada rakyat, jika kultur kampus sudah di-setting sedemikian rupa. Pendidikan dinilai sebagai loncatan menuju karier untuk menambang keuntungan finansial.

Bahaya jika pendidikan bergerak sekadar menghasilkan tenaga instan dan profesional. Akibatnya, produk yang dihasilkan tak beda dengan robot yang sudah disistem dan tenaga-tenaga yang siap menjadi pekerja.

Keinginan untuk mengabdi pada rakyat patut dipertanyakan. Alih-alih menjadi agen perubahan dan berdiri di garda paling depan dalam memperjuangan rakyat, orang-orang terpelajar dengan medium perguruan tinggi terjerumus dalam lingkaran hitam. Mereka melahirkan kelas-kelas baru; kelas penindas.

Sukses menaikkan grade dirinya sendiri sebagai kelas pertama dalam masyarakat, orang-orang terpelajar justru memproklamirkan dirinya sebagai kelas politik yang dominan. Mereka merasa berbeda dengan petani, buruh, pedagang, hingga membuat mereka menjadi elitis. Jika seperti itu, jurang pemisah orang-orang terpelajar dengan masyarakat kelas bawah semakin tak terelakan lagi.

Orang-orang yang seharusnya independen menyikapi konflik yang terjadi di masyarakat malah tak tahu arah, mereka condong membela korporasi. Bisa kita lihat, kelakuan teknokrat kampus-kampus kondang macam UGM, ITB, maupun IPB senada dengan korporasi soal pegunungan Kendeng sampai Tanjung Benoa. Inilah petaka orang terpelajar hari ini.

Menjadi orang terpelajar memang dilematis. Jalan politis adalah pilihan terakhir. Orang terpelajar terjebak dalam sebuah pertanyaan apakah kita akan membebaskan diri dari penindasan, atau menjadi penindas?

Saya tidak bisa membayangkan seandainya Soe Hok Gie masih hidup dan melihat orang terpelajar hari ini. Bisa jadi Gie akan bilang: muak.

Kita bisa lihat kembali kondisi masyarakat khususnya kelas bawah yang hari ini masih ditindas oleh kebijakan yang mengatasnamakan pembangunan, pemerataan ekonomi, maupun pelaksanaan Undang-undang. Kemana orang-orang terpelajar? Orang terpelajar justru tak mampu melakukan apa-apa.

Inilah yang kemudian dikhawatirkan Pram terhadap orang-orang terpelajar dalam buku Anak Semua Bangsa. Ketika Minke melihat penindasan petani di Sidoarjo, ia tak mampu melakukan apa-apa. Persis seperti hari ini, entah esok juga akan tetap sama.

pramoedya-a.-toer

Agen perubahan sosial sudah semestinya bukan hanya slogan yang dibangga-banggakan. Pengabdian  kepada masyarakat bukan sekadar wacana yang tak kunjung dieksekusi. Akhirnya pengertian orang-orang terpelajar dipersempit menjadi orang-orang yang hanya datang ke kelas, mengerjakan tugas, lulus, lalu mendapatkan kerja.

Orang tepelajar hadir bukan untuk korporasi, bukan untuk pemerintahan. Orang-orang terpelajar hadir untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Yang pastinya memiliki moral kerakyatan, kemanusiaan, serta keadilan yang tinggi. Bukan hanya mengurus diri sendiri.

Jika orang terpelajar meluangkan diri untuk merenung, kesempatan untuk bergerak sebenarnya terbuka lebar. Pasca reformasi, keran kebebasan dibuka selebar-lebarnya. Beberapa aktivitas legal draft sudah diupayakan tuk menekan munculnya aturan-aturan yang membelenggu orang-orang terdidik. Bekal tersebut sebenarnya mampu menjadi amunisi terpenting dalam setiap laju gerakan orang-orang terdidik dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Sejarah sudah merentangkan, bahwa orang-orang terdidik tak bisa bekerja sendiri. Saat reformasi, orang-orang terdidik mampu berimprovisasi dengan rakyat, membangun kekuatan dan menggulingkan penguasa. Gerakan yang dilakukan oleh orang-orang terdidik harus memiliki jaringan yang lebih terstruktur dengan kelompok-kelompok masyarakat. Minimal mempunyai jaringan dengan kelompok tani maupun buruh yang hari ini masih konsisten memperjuangkan reforma agraria dan upah layak.

Belajarlah dari generasi Tirto Adhi Soerjo, HOS Tjokroaminoto hingga generasi Sukarno. Mereka adalah generasi emas di zamannya. Mereka membangun pondasi dirinya menjadi humanis dengan mengedepankan dialektika, mereka tidak pernah alpa untuk mengkritisi ketidakadilan. Sedangkan kalian, sudah berbuat apa?