Minimnya Ide Rekrutmen Organisasi Mahasiswa


Organisasi Mahasiswa

Kita patut mengapresiasi para pengurus organisasi ekstra kampus macam HMI, PMII, IMM, KAMIII GMNI maupun organisasi lainnya yang kini sedang membuka pendaftaran perekrutan anggota. Selain sebagai program kerja wajib mereka, perekrutan anggota baru merupakan upaya melestarikan, mempertahankan sekaligus mengembangkan organisasi mereka.

Ya, organisasi mana yang tidak mau berkembang.

Tapi, ada pertanyaan yang mungkin agak sedikit konyol. Kenapa stand pendaftaranya harus saling bersebelahan antara organisasi satu dengan yang lainya, dan kenapa pula organisasi macam HMI, PMII, dan IMM membuka pendaftaran dalam waktu yang sama? Apakah pengurus organisasi tidak memikirkan betapa bingungnya mahasiswa baru yang ingin mendaftar?

“Sini, Dek, Ikut organisasi kakak aja.. Enak loh kalian bisa menemukan banyak teman. Nggak kayak organisasi sebelah kerjanya merebut kampus mulu,” ujar organisasi A.

“Dek, jangan dengerin ocehan organisasi yang di sana, semuanya bohong,” kata organisasi B.

“Mending ikut sini aja, Dek. Di sini kalian bisa menemukan jatidiri, di sini tidak ikut-ikutan dalam politik kampus,” cetus organisasi C.

Bagi organisasi yang menganut paham ‘siapa cepat dia dapat’ tentu sah-sah saja. Tapi bagi kami sebagai mahasiswa (baru), hadirnya stand pendaftaran secara serentak sangat membingungkan. Bingung mau daftar yang mana, apakah HMI, PMII, IMM atau apalah. Pastinya mereka memiliki cara yang berbeda dalam mengkader.

Kaderisasi adalah proses pendidikan jangka panjang untuk mengoptimalkan potensi-potensi kader dengan cara mentransfer dan menanamkan nilai nilai tertentu, hingga nantinya akan melahirkan kader kader yang tangguh. Setiap pengurus organisasi khususnya pengurus di bidang yang menangani persoalan SDM atau HRD (Human Resource Development) selalu berlomba-lomba merebutkan kader tiap masa penerimaan anggota baru.

Perlu banyak pertimbangan dalam memilih organisasi di kampus. Tidak sedikit organisasi yang menyebabkan menurunya nilai IPK, dan menjadikan mahasiswa suka melawan kebijakan kampus. Apakah tujuan organisasi itu menjadikan mahasiswa menjadi seorang pembangkang? Kalian sebagai pelaku organisasi pasti punya jawaban tersendiri.

Tentu harapan dari organisasi ingin menjadikan mahasiswa yang dikader, menjadi kritis se’kritis-kritisnya. Terlepas efek dari semua itu bisa memperlambat kuliah, intinya mereka ingin menciptakan kader yang jauh lebih kritis dari kader sebelum.

Bukanya menyalahkan organisasi, di AD/ART pasti tertulis salah satu tujuan organisasi adalah untuk memajukan budaya inteletual. Tapi jarang sekali bagian ini diperhatikan.

Hingga akhirnya muncul paradigma bahwa orang yang ikut organisasi adalah aktivis yang kuliahnya lama, doyan aksi dan bla..bla.. bla…

“Kuliah lama” kalimat itu sering terdengar ketika berada di lingkungan organisasi. Ada pembenaran bahwa ‘kuliah lama asalkan ikut organisasi memang tidak masalah’. Tapi akan lebih baik ketika seorang aktivis menyeimbangkan atara kuliah dan organisasi.

Terlepas dari itu semua, penulis sepakat bahwa kaderisasi merupakan tugas besar dalam sebuah organisasi. Kaderisasi merupakan hal yang sangat penting dan vital di lingkungan organisasi hingga departemen kaderisasi dalam perjalanannya merekrut para kader harus menemukan format dan wajah baru.

Sebuah organisasi tidak mungkin diurus oleh satu generasi secara terus menerus. Karenanya, dibutuhkan perekrutan generasi di bawahnya yang nantinya diharapkan menjadi calon penerus keberlangsungan organisasi tersebut.

Tujuan perekrutan kader adalah menampung potensi kader dan bagaimana nantinya organisasi bisa mendidik, mengajari dan menjadikan mereka calon calon pemimpin baru. Bukan hanya sebagai peramai sebuah organisasi. Organisasi dinilai besar bukan karena banyaknya sebuah anggota di dalamnya, bukan berapa lamanya organisasi itu berdiri, atau faktor lainnya. Tapi kader yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Tidak ada jaminan pula dengan banyaknya kader maka organisasi akan maju. Karena tidak semua mahasiswa sungguh-sungguh dalam berorganisasi, ada yang sekadar ingin coba-coba, ada yang ingin cari teman, pacar, dan ada pula yang tidak tahu tujuanya kenapa masuk organisasi. Di sisi lain, banyak orang tua yang tidak suka ketika anaknya masuk organisasi, karena takut anaknya terlena di organisasi sehingga melalaikan kuliah.

Organisasi harus memikirkan konsep rekrutmen kembali. Persaingan dalam perekrutan para kader diharapkan mampu memiliki visi dan misi yang jelas. Bukan hanya sekadar sesumbar iming-iming kesenangan atau ajang untuk meramaikan saja.

Alangkah lebih baik jika organisasi tidak saling berebut atau saling menjelek-jelakan satu sama lain dalam mencari kader. Karena seharusnya mahasiswa-lah yang butuh organisasi, bukan organisasi yang butuh mahasiswa. Yang dibutuhkan organisasi hari ini adalah kader-kader yang berkualitas.

Membuat konsep rekrutmen yang menarik adalah langkah awal promosi sehat sebuah organisasi. Jadi, akan lebih sukses suatu organisasi ketika para kadernya dengan inisiatif mereka sendiri mau bergabung. Bukannya malah sesumbar promosi atau janji-janji manis dengan hal-hal yang belum bisa dipertanggung jawabkan.