Bau Busuk Pemira UIN Jakarta


pemira-di-UIN-Jakarta

Tak terasa, Pemilu Raya (Pemira) UIN Jakarta sebentar lagi digelar. Puluhan ribu mahasiswa akan ikut memeriahkan hajatan politik tahunan ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hingar-bingarnya selalu menyesakkan telinga. Mulai dari konsolidasi, ‘mapping’ dan upaya-upaya koalisi.

Bisa ditebak, Organisasi Ekstra sudah pasti sibuk menyiapkan “gladiatornya” memasuki gelanggang pertarungan. Tiada hari tanpa konsolidasi, tiada hari tanpa mencari koalisi. Begitu kira-kira tanggapan dari para pelaku organisai yang akan berpartisipasi dalam Pemira tahun ini.

Tak dipungkiri pula, para kader baru organisasi ekstra diperalat untuk membantu memangkan calon yang ereka usung, mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) juga bakal jadi lahan basah untuk mendulang suara lebih banyak. Siapa cepat dia dapat.

Pemira selalu menjadi hiburan politik kampus ini tiap tahun. Kadang merasa geli, kadang pula bercampur jijik menonton “drama kolosal” perang politik antar organisasi yang hanya memikirkan kemenangan. Ora menang kudu edan! Karena ada modal yang haris dipersiapkan

Saking totalnya dalam bermain peran, seringkali para aktor Pemira semakin terlihat tak dewasa dalam  menjalankan perannya. Bagaimana tak dianggap kekanak-kanakan, hanya karena ingin memenuhi syahwat politiknya, beberapa minggu selalu ada perselisihan yang entah sengaja mereka buat, atau memang murni terjadi menjelang pemira.

Parahnya, mereka lebih mengutamakan fungsi otot ketimbang memaksimalkan fungsi otak. Persis seperti sifat anak-anak SMA yang suka putar gesper di udara.

Bukti-Pemira-di-UIN

Bicara Pemira, bicara menang-kalah. Siapa yang berhasil duduk di kursi kebesaran, dialah yang berkuasa. Sementara untuk yang gagal, silahkan menonton sambil gigit jari saja. Jangan berharap dapat jatah ikut serta dalam kepengurusan. Akibatnya, ‘dendam politik’ antar organisasi terus membara dan tak pernah sirna. Gengsi organisasi selalu jadi alasan bagi mereka.

Kita tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Karena saya yakin, bahwa apa yang mereka lakukan merupakan hasil didikan dari para senior. Benar apa kata pepatah, buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Dan apa yang dilakukan junior tidak akan jauh dari apa yang dilakukan senior.

Maka, jika ditarik ke belakang, yang sebenarnya tidak dewasa adalah para seniornya. Jika para senior itu tak bisa membawa kesejukan di dunia politik UIN Jakarta, mereka lebih suka menjadi bensin ketimbang menjadi air, serta menjadi kompor perselisihan, maka apa boleh buat kita sebut mereka orang tua yang telah sampai pada masa puber yang kedua.

Sampai sekarang saya masih bertanya, kemanakah para senior? Sudahkah mereka memberikan pendidikan yang benar bagi para kader juniornya? Atau kebusukan pemira tiap tahun ini sengaja mereka rawat atas nama kemenangan.

Terus terang, saya benar-benar muak menyaksikan politik di kampus ini. Politik yang hanya membawa pertikaian dan ajang adu gengsi antar organisasi. Politik yang selalu membawa bau yang tak sedap. Politik yang mengganggu kesehatan para mahasiswa baru.

Sudah saatnya kita semua duduk bersama, menjadikan pemira UIN Jakarta sebagai pendidikan politik yang sehat. Sudah seharusnya, politik di kampus menjunjung tinggi persatuan demi menuju tujuan yang sama, memajukan UIN. Tentu, ide ini harus digawangi oleh para senior, sebagai orang tua dari masing-masing organisasi ekstra. Jika tidak, perpolitikan kampus akan tetap “bau busuk”.