Kala Kopi dan Diskusiku Dianggap Jahat


Ngopi
Foto:

Pada dasarnya, diskusi jika kita telisik di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya adalah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Jika ditambahi imbuhan kata kerja “ber maka akan berbeda makna. Yaitu mengadakan diskusi; bertukar pikiran. Oke, cukup disitu. Saya bukan mau membahas dari segi tata bahasa, karena saya pun bukanlah seorang ahli dalam tata Bahasa Indonesia. O iya, sebelum membaca  tulisan ini diharapkan tersedia segelas kopi hangat dengan gorengan di depan mata. Satu lagi, beberapa batang tembakau akan menambah kenikmatan dalam membaca tulisan ini.

Santai saja mas, atau mbak yang baca ini. Saya bukan orang yang serius-serius amat, kok.

Oke, kembali ke masalah diskusi tadi. Jadi begini pembaca yang budiman, permasalahan diskusi khususnya bagi saya seorang mahasiswa di Ciputat memang amat sungguh menarik. Di setiap sudut kampus saya yang (katanya) memang terkenal akan keilmuannya, sudah tak aneh lagi jika melihat ada beberapa orang yang berdiskusi. Entah itu diskusi sastra, sejarah, sosial, hingga pendidikan. Insya Allah ada.

Nah, diskusi yang sudah saya tulis di atas tadi bermakna ‘pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran’. Dimana dua, puluhan, hingga ratusan orang berkumpul untuk membahas satu disiplin ilmu. Mencari solusi, atau katakanlah titik tengah dari pembahasan yang di diskusikan. Berarti, diskusi mengasah dan melatih kita untuk menerima perbedaan. Menjadikan kita manusia yang mau toleran. Kalau kita toleran, pasti asyik kan?

Saya sebagai mahasiswa yang tidak serius-serius amat, ya, bisa kalian katakan saya tukang bercanda. Bisa menjadi serius kalau memang diskusi yang dibawa enak, gurih, dan tidak terlampau seksi. Menjadi pribadi yang toleran pun karena diskusi. Dalam paragraf ini saya murni membahas diskusi. No pencitraan. Jadi tolong jangan salah paham, Mas.

Yang membuat saya resah, ada bias-bias kepentingan yang kadang masuk ke diskusi. Sebut saja bias-bias itu adalah ‘kepentingan’. Bukan berprasangka buruk, tapi pada faktanya ada saja orang yang memiliki niat seperti itu. Apalagi jika sedang hangat-hangatnya musim semester baru begini. Duh, pokoknya subur!

Beberapa kosakata dalam diskusi seperti ngopi saja kini sudah dianggap jahat. Padahal, kopi adalah elemen penting dalam berdiskusi. Intinya, kopi adalah harga mati saat diskusi. Karena bias-bias itulah banyak teman-teman saya, atau pun yang lain kini takut diajak ngopi. Padahal, saya dengan tulus mengajak minum kopi untuk hanya sekedar melepas tawa, dan senda gurau saja.

Sebetulnya, sah-sah saja menjadikan ngopi sebagai salah satu cara untuk meraih kepentingan. Itu wajar. Sayangnya, beberapa orang yang membuatnya jahat itu yang menjadikan dirinya, atau kepentingannya dicap buruk. Dibandingkan menjadikan kopi sebagai ladang kejahatan, mengasah atau menunjukan karya itu lebih baik. Toh, itu lebih bertahan lama. Saya berani jamin.

Justru dengan menunjukkan karya, lalu menjadikan diri sendiri sebagai citra yang kreatif malah akan lebih memorable, dibandingkan dengan kopi yang malah dijadikan semu. Kasihani yang tak paham, jika sudah terkena takutnya berimbas ke diri masing-masing.

Jadi, sekali lagi, sudikah Mas atau Mbak yang membaca ini sudi kembali ngopi dengan saya?