Demonstrasikan Kritismu Mahasiswa!


Demonstrasi
Foto:

Bicara mahasiswa berarti bicara tentang kebanggaan dan kewajiban. Tidak semua pemuda lulusan SLTA se-derajat yang bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi apalagi perguruan tinggi pilihannya. Mulai dari hari ini bersyukurlah bisa menikmati masa perkuliahan. Hilangkanlah dalam pikiran bahwa kampus yang kita duduki sekarang ini merupakan kampus pelarian, dari pada tidak kuliah mending kuliah disini. Mari berimajinasi sebentar, pikirkan saudara kita yang ingin mengenyam pendidikan namun dihalangi oleh ruang dan waktu.

Ada yang tidak bisa kuliah karena harus menjaga orang tua yang sedang sakit-sakitan, ada yang tidak bisa kuliah karena harus mencari nafkah keluarga, ada yang tidak bisa kuliah karena tidak lulus di perguruan tinggi manapun, ada juga yang tidak bisa kuliah karena mindset orang tua tidak penting kuliah karena ujung-ujungnya cari uang, mending bekerja cari uang dari pada kuliah menghabiskan uang. Untuk itu marilah bersyukur telah bisa duduk di bangku perkuliahan.

Sebagai mahasiswa juga dihadapkan pada sebuah tanggung jawab yang besar di pundak kita (mahasiswa). Mengulas sedikit tentang euforia masa lalu di Indonesia, salah satu contoh kekuatan mahasiswa dengan gerakannya untuk menjatuhkan rezim Orde Baru dan menghapus korupsi, kolusi dan nepotisme (kkn) serta menuntut reformasi pada tahun 1997-1998, lewat pendudukan DPR/MPR RI oleh ribuan mahasiswa. Akhirnya memaksa presiden Soeharto melepaskan jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998. pelbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini diantaranya: Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I, dan Tragedi Semanggi II. Namun mahasiswa tidak tinggal diam dan pantang menyerah sehingga tetap berlanjut sampai tahun 1999.

Indonesia telah menunjukkan pakaiannya sebagai negara demokrasi yang tertulis dalam perundang-undangan yang mendukung masyarakat untuk bersama-sama mengemukakan pendapatnya. Penyampaian aspirasi itu diatur dalam pasal 28 UUD 1945, “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan” dan juga terdapat dalam  UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum. Pasal 2 (dua) ayat 1 (satu) dalam UU ini mengatakan, “Setiap warga negara, secara perorangan atau kelompok, bebas menyampaikan pendapat sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.” Dalam UU tersebut sudah jelas dinyatakan bahwa bebas menyampaikan pendapat secara perorangan maupun berkelompok.

Dan bentuk penyampaian dimuka umum ini juga dijelaskan dalam pasal 9 ayat (1) “Unjuk rasa atau demonstrasi, pawai, rapat umum dan atau mimbar bebas.” Yang sering dilakukan oleh masyarakat dalam penyampaian pendapatnya adalah demonstrasi atau unjuk rasa.

Unjuk rasa atau demonstrasi sering dikonotasikan dengan sekelompok orang  yang dipandu menggunakan megaphone sambil menyuarakan yel-yel, membawa bendera, teatrikal, berpakaian kreatif dengan atribut-atribut, membawa spanduk dengan tulisan-tulisan menyampaikan aspirasinya, bakar-bakar ban, kursi, meja serta melakukan perbuatan anarkis.

Ini yang membuat demonstrasi dibenci oleh masyarakat sekitar, aktor demonstrasi yang tidak paham akan demokrasi. Padahal demonstrasi (menyampaikan pendapat dimuka umum) sudah ada ketentuan dalam UU dengan tidak mengganggu aktivitas umum, menjaga keamanan dan menjaga ketertiban umum.

Inilah tugas mahasiswa meluruskan statement masyarakat bahwa demo mahasiswa adalah demo yang tidak berguna bahkan merugikan diri sendiri dan masyarakat. Tidak hanya masyarakat yang mengatakan seperti itu. Dosen bahkan pimpinan kampus pun juga kompak menyuarakan demo tersebut tidak berguna. Bahkan ada juga beberapa dosen yang memberi nilai E jika ada mahasiswanya yang melakukan demo.

Ini kan aneh, seorang akademisi tidak paham hakikat demokrasi, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang disumpah setia pada Pancasila dan UUD 1945 juga melarang mahasiswanya mengamalkan demokrasi yang tertulis dalam pasal 28 UUD 1945. Padahal yang diperjuangkan adalah hak dan kebenaran. Pertanyaannya, jika ada pimpinan/pejabat kampus/dosen yang melarang mahasiswanya untuk ikut demonstrasi ke rektorat/dekanat/pemerintah, ada apa dengan mereka? Kesalahan apa yang mereka lakukan? Jabatan apa yang terancam? Sangsi apa yang mereka dapatkan? Sangsi fisik atau sangsi moral?

Jawaban setia untuk  mahasiswa adalah merekalah yang seharusnya ditargetkan. Namun itu semua harus dilakukan dengan step by step sesuai etikanya. Surati, audiensi, jika tidak dihiraukan baru melaksanakan aksi dan dimediasi.

Maka dari itu, kita (mahasiswa) juga harus berusaha menilai, memilah dan memilih keputusan dari berbagai sudut pandang yang dikemukakan. Perjuangan tak pernah usai, penindasan dan perampasan hak terus berlanjut oleh mereka-mereka yang berkuasa. Akibatnya, mahasiswa sebagai agen of change and social of control yang strategis dengan sendirinya harus memosisikan diri mereka sebagai penggugat dan kabar buruk bagi penguasa yang merampas hak-hak masyarakat.

Kalau mau jadi mahasiswa pintar maka buka ruang komunikasi dan dialog seluas-luasnya. Jangan hiraukan larangan dosen/pimpinan kampus jika mahasiswa ingin memperjuangkan kebenaran.