Ketika HTI Dibubarkan, HMI, PMII dan IMM Mau Ngapain?


HTI

Dari kemarin saya tidak begitu ambisius untuk mengomentari atau menafsirkan keputusan Menkopolhukam terkait pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Selain tidak punya kapasitas mumpuni mengenai hukum pembubaran lembaga, tidak ikut mengomentari pembubaran adalah jalan yang paling benar. Tapi saya akan mengomentari HTI dari sudut yang berbeda.

Pembubaran HTI adalah kesedihan bagi dunia pergerakan. Saya meyakini itu. Ketika gerakan yang mengatasnamakan Islam seperti HMI, PMII dan IMM semakin terlihat lesu, HTI justru tetap tampil progresif di berbagai tempat. Melakukan deklarasi di mana-mana.

Mari kita bandingkan kenapa HTI jauh lebih konkret ketimbang, HMI, PMII dan IMM dalam menawarkan konsep ideologinya.

Tawaran HTI sangat tegas, Khilafah Islamiyah. Pandangan Islam ini dirumuskan dalam kalimat “Al Islam diin wa minhu ad daulah.” (Islam adalah agama, di antaranya adalah ajaran tentang bernegara). Ini berbeda dengan konsep sekularisme dari Barat yang memisahkan agama dan negara (fashlud diin ‘an ad daulah). Bagi mereka, agama dan negara dalam ajaran Islam tidak terpisah. Sedangkan KAMMI, terlihat masih kurang tegas menawarkan konsepnya selain mengutip pandangan-padangan Hasan al-Banna sebagai representasi salah satu ideologi Islam.

Bagaimana dengan HMI, PMII dan IMM? Terus terang saya melihat ketiga organisasi tersebut sama sekali masih belum jelas mengenai konsep yang ditawarkan. Kampanye melalui pamflet atau buletin di kampus-kampus pun jarang terlihat. Beda dengan HTI lewat Gema Pembebasan yang hampir tiap minggu menyebarkan buletin di masjid-masjid kampus.

HMI masih terus menjajakan Islam Tamaddun (Peradaban). HMI masih meyakini bahwa Menanamkan nilai-nilai moral Islam atau kearifan Islam, karena peradaban tidak lepas dari orang-orang yang memiki akhlaq mulia. Namun, bagaimana cara pandang Islam Tamaddun dalam menghadapi realitas hari ini? Jawaban atas pertanyaan itu belum banyak terekspos dan banyak kader-kadernya yang belum memahami Islam Tamaddun.

PMII pun hampir sama, pastinya tidak akan berbeda jauh dari Nahdlatul Ulama dengan Konsep Islam Nusantara yang belakangan ini menjadi pembahasan di muktamar kemarin. Tapi lagi-lagi, artikulasi konsep Islam Nusantara yang mereka tawarkan masih belum tersemai secara massal. Konsep Islam Nusantara yang mereka tawarkan masih banyak yang tidak dipahami.

Apalagi IMM, terus terang sama sekali saya tidak tahu-menahu wacana apa yang hari ini mereka tawarkan, apakah konsep ‘Islam Berkemajuan’ sebagaimana jadi pembahasan pada muktamar kemarin atau masih menggunakan konsep Tauhid Sosial ala Amien Rais.

Ketiga organisasi terbesar di Indonesia itu membuat saya (maaf) kesal. HMI, PMII dan IMM itu sangat ditunggu kiprahnya di kampus-kampus sebagai elan vital dari pergerakan mereka sendiri. Jangan-jangan, mereka sudah terlalu letih ketika berlama-lama ‘jualan’ namun tidak laku-laku? Atau kader-kader saat ini sama sekali tidak menggeluti pemikiran Islam secara baik. Semoga saja itu bukan alasan yang benar kenapa hari ini mereka lesu.

Saya selalu bertanya kepada senior atau kader mereka, kapan bisa membuat ruang publik yang dinamis dan penuh dengan sebaran wacana. Misalkan satu organisasi menawarkan wacana dan organisasi lain akan membawa produknya masing-masing sebagai pelengkap atau counter.

Padahal saya yakin 100% bahwa konsep yang ditawarkan HMI, PMII maupun IMM pasti berbeda dengan HTI  yang dengan gamblangnya mengusung Khilafah Islamiyyah. Tapi kenapa mereka masih saja diam, dan sama sekali tidak melakukan counter wacana. Kalaupun ada, belum secara massal tindakan kongkret yang terlihat. Hanya ngedumel saja.

Sekali lagi pengertian counter wacana yang dimaksud dalam konteks ini tentu saja bukan adu jotos wacana, konflik wacana, atau debat kusir yang tidak menemui kesepakatan. Pengertian counter wacana dalam hal ini lebih kepada debat wacana dalam kerangka fastabiqul khoirot—berlomba-lomba menuju kebaikan.

Coba kita bayangkan bila di kampus kita membuat sebuah forum batsul masail yang pembicaranya dari mahasiswa dengan menghadirkan lima organisasi Islam yang disebutkan di atas. Mereka datang dengan membawa referensinya masing-masing.

Pasti satu dengan yang lain akan mempertimbangkan standar hukum masing-masing. Tapi, itulah dinamika batsul masail. Saya yakin dengan begitu ada proses ijtihad yang mereka lakukan dengan mengupayakan segala daya pikiran, pemahaman, juga kejernihan akal budi dalam rangka mencari sebuah pemecahan masalah yang produktif bagi kemanusiaan, kehidupan juga keislaman.

Ruang publik semacam itulah yang saya rindukan. Satu organisasi dengan yang lain menawarkan idenya, tanpa perlu terjebak kepada klaim kebenaran. Dampak dari adu wacana tersebut adalah transfer pengetahuan kepada publik. Publik, dengan kedewasaannya akan memilih ide mana yang sesuai dengan pikiran dan keyakinannya masing-masing. Sedangkan hari ini, semua itu tidak tampak di kampus yang sebenarnya sangat potensial untuk meluruskan nilai-nilai keislaman.

Maka, jangan heran ketika saya mengatakan bahwa HMI, PMII maupun IMM kurang memainkan kampanye konsepnya dalam rangka dakwah Islam. Lain halnya dengan Gema Pembebasan dan KAMMI yang masih sering terlihat dengan pernyataan-pernyataan sikap tegasnya.

Jika HMI, PMII dan IMM hanya sebatas pencarian ‘kader, kader dan kader’, saya yakin nasib dunia pergerakan mahasiswa tidak akan menjanjikan. Hal buruknya, organisasi mereka akan dicap sebagai ‘organisasi yang mandul.’

Cukup salut kepada HTI yang masih tetap militan dalam rangka menawarkan konsepnya kepada publik. Meskipun organisasi itu masih tetap memiliki sejumlah kritik mendasar. Tapi, adanya mereka lebih baik daripada absennya HMI, PMII dan IMM dalam memberikan konsep keislaman ke publik. Hadirnya HTI saja mereka masih nyaman apalagi HTI dibubarkan.