4 Alasan Kenapa Anda Jangan Jadi Aktivis


aktivismahasiswa/mahasiswabicara
Foto: http://www.mapetalaunib.or.id

Aktivis itu mahasiswa yang biasanya sangat sibuk. Aktivitasnya padat. Rapat, rapat dan rapat. Seorang aktivis sering kali menganggap bahwa belajar tidak harus di kelas. Intelektual seseorang tidak hanya diukur berdasarkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Biasanya mereka jarang mudik gara-gara ada urusan rakyat yang harus diselesaikan. Boro-boro pacaran, boro-boro shoping, Sabtu-Minggu aja kadang mereka sibuk melakukan konsolidasi.

Tiap kali liburan ke luar kota, niatnya untuk mempererat tali persaudaraan sesama para aktivis lainnya. Kalaupun sedang santai dan ngumpul bareng biasanya sambil nge-bir. Bagi anda yang punya niat atau sudah jadi aktivis, beberapa poin ini akan membuat Anda berpikir ulang.

1.Tidak berguna, Ikuti Arus Saja Lebih Aman

Buat apa menjadi  aktivis mahasiswa yang doyan kritis? Apa gunanya menjadi mahasiswa yang keluar dari zona nyaman? Bukankah lebih nyaman memikirkan urusan kuliah lalu menjual romantika jalan aktivis kepada kapitalis atau berbisnis segila-gilanya untuk mempertebal dompet. Bukankah kesuksesan dunia itu bergantung pada kesuksesan pribadi?

Mahasiswa yang berjuang untuk ideologinya, mahasiswa yang mendobrak kemapanan kapitalisme hanyalah mahasiswa yang berlebihan dalam berideologi lalu tidak berfikir tentang kondisi duniawinya. Bukankah lebih nyaman mencari muka dengan kapitalis dan menjilat pantat para kapitalis?

2.Revolusi Kata Mereka, Ilusi Kata Saya

Mereka para aktivis mahasiswa hobi berceloteh dan mengumbar apapun tentang revolusi. Entah itu revolusi mental, revolusi agraria, revolusi agama, revolusi perut, revolusi nasib dan revolusi mbelgedes-mbelgedes lainnya. Mereka bilang revolusi pasti terjadi suatu saat nanti dengan atau tanpa bantuan kita. Para aktivis berkoar ingin menjadi bagian dari mereka yang memperjuangkan revolusi.

Semua itu ilusi. Tidak ada gunanya. Mengapa kita tidak memperjuangkan yang pasti-pasti aja seperti beasiswa ke planet lain, dunia lain dan dimensi lain. Toh dunia kerja nanti lebih membutuhkan fresh graduate yang punya pengalaman di dunia, planet bahkan dimensi lain.

Intinya sih gak usah aneh-aneh, fokuslah ke nilai dan Indeks Prestasi (IP) lalu berburu tempat kerja kece dan nikah. Gak usah mikir yang lain. Aku menghargai jalan kalian selama kalian tidak menganggu keinginanku untuk mencari muka dengan kapitalis. Jika kalian menggangguku maka jangan salahkan aku jika kalian akan dibredel dari kampus.

3.Jangan Seperti Mereka, Bacaannya Aneh-aneh!

Percaya deh, tidak ada gunanya baca buku aneh-aneh seperti Madilog-nya Tan Malaka, Main Kampf-nya Adolf Hitler, Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun, Ma’alim fi Ath Thariq-nya Sayyid Qutb atau Das Kapital-nya Marx. Mending hafalin slide aja. Serius gak ada gunanya membaca itu semua, ilusi semua.

Tidak ada gunanya membaca buku-buku yang tak ada kaitan nyata dengan mata kuliah. Mending baca slide aja dari dosen atau buku pelajaran yang nantinya pasti diujikan saat ujian. Saya tegaskan, IP itu utama kawan!

Jadi sempitkan saja jalan berpikir kita…

4.Jangan sering berdiskusi non mata kuliah

Kita disini sebagai mahasiswa, janganlah memfokuskan diri pada hal hal lain yang tidak ada gunanya seperti politik, ekonomi, sosial, sastra, budaya dan lain lain. Cukup fokus pada tugas yang menggila, paper yang meneror tiap pekan dan tuntutan IP tinggi dari orang tua. Jadi belajarlah untuk tugas, paper dan IP tinggi saja. Jangan mempelajari sesuatu yang tidak berkaitan dengan itu semua seperti halnya para mahasiswa keras kepala.

Bila ada waktu kosong, sempatkanlah jalan-jalan tanpa pernah memerhatikan kemiskinan di sekitar anda, luangkanlah waktu untuk ber-selfie ria di kafe-kafe borjuis nan mewah tanpa pernah berpikir kesejahteraan kaum marginal.

Sekian, selamat tersinggung!